Logo

anwari's playground

  • Archive
  • RSS
  • Ask me anything

Seputar TOEFL IBT

Sekitar 2 bulan yang lalu saya memutuskan mengikuti test TOEFL IBT (internet based toefl). Jika saja universitas yang saya tuju tidak mengharuskan tes ini, maka tentunya saya akan mengambil tes jenis lain yang lebih murah seperti TOEFL ITP (institutional, dari institusi) atau TOEFL PBT (Paper based, dari ETS). Sayangnya, kedua jenis tes tersebut tidak diterima sehingga mau tidak mau saya harus mengikuti tes TOEFL IBT seharga ‘hanya’ 175 dollar. Ffff. Cukup besar juga.

Sebelum memutuskan untuk mengambil IBT, saya berusaha untuk mencari informasi mengenai tes bahasa inggris lainnya, yaitu IELTS. Konon katanya, tes IELTS ini lebih sulit karena kita dihadapkan dengan seorang native speaker yang menilai langsung bagian speaking. Selain itu juga karena pertanyaan IELTS banyak yang berbentuk essay. Tadinya saya ingin mengambil tes IELTS, akan tetapi perbedaan biaya tes yang lebih tinggi 20 dollar mengurungkan niat saya. Belum lagi jika harus mengeprin ulang report nilai (Rp 25.000 + ongkos kirim via DHL ke negara tujuan) yang totalnya bisa mencapai Rp. 400 ribu untuk satu lembar skor. Ah, lebih baik memilih TOEFL saja lah, lebih murah hahaha XD  

Bedanya IBT dengan TOEFL biasa

TOEFL IBT adalah tes jenis baru yang penyampaiannya menggunakan komputer melalui internet. Tes ini menguji kemampuan bahasa inggris untuk lingkungan akademik, sehingga isi tesnya merupakan cerminan penggunaan bahasa sehari-hari di kampus dan dalam kuliah.

Pada saat tes, kita dihadapkan dengan komputer yang akan merekam jawaban kita. Ada empat kemampuan dasar bahasa inggris yang diujikan yaitu reading, listening, speaking, dan writing. Masing-masing bagian bernilai 30 poin sehingga total nilai yang dapat dicapai peserta adalah 120, bukan 677 seperti pada TOEFL paper based.

Tidak ada istilah sukses atau gagal dalam tes TOEFL, tetapi tentu saja kita perlu memperhatikan nilai minimum yang diperlukan untuk masuk ke universitas yang kita minati. Rata-rata nilai yang diminta di universitas yang saya tuju adalah sekitar 90-95, kurang lebih setara dengan angka 575-585 pada TOEFL biasa. Untuk mengetahui ekivalensi nilai antara TOEFL IBT, PBT, IELTS dan test lainnya, kamu dapat melihat tabel ekivalensi nilai disini. 

Pendaftaran

Dulu saya mendaftar TOEFL IBT secara terpusat melalui website ETS/toefl. Disana kita perlu mencari jadwal tes (biasanya hampir setiap minggu ada tes), tempat tes, lalu kemudian membayar secara online dengan kartu kredit. Saat itu saya tergesa-gesa mendaftar karena deadline untuk mengirim aplikasi sudah dekat. Saya pun memilih untuk mengikuti tes dengan jadwal paling dekat yaitu seminggu sejak hari pendaftaran. Saya pilih tempat tesnya di TBI Dago, Bandung. Oiya pendaftaran maksimal dilakukan H-7 sebelum hari tes.

Pada fase pendaftaran ini, kita memiliki opsi untuk mengirim hingga 5 report skor TOEFL secara cuma-cuma. Satu report dikirim ke alamat kita sedangkan empat lainnya ke universitas yang dituju. Kalau saran saya sih, gunakan sisa empat slot report tersebut untuk dikirim ke universitas, daripada harus mengeprin ulang di lain waktu setelah skornya keluar. Lumayan, bisa menghemat 17$ untuk biaya print ulang dan ongkos kirim kemana saja untuk satu report.

Belajar untuk tes

Untuk menghadapi tes, kita perlu teliti dan cermat dalam mengerjakan seluruh kemampuan dasar yang akan diujikan. Keempat bagian tersebut cukup sulit, apalagi jika belum terbiasa speaking dan writing (2 bagian ini menurut saya paling sulit). Kalo kamu memang tidak yakin dengan kemampuan bahasa inggris kamu, mendingan ambil les dulu sebelum dites daripada gagal mencapai skor yang diinginkan.

Berhubung biaya yang dipertaruhkan dalam tes ini sangat besar, saya menghabiskan satu minggu tersebut hanya untuk membaca buku, berlatih soal, dan menghapal beberapa template jawaban untuk meningkatkan nilai akhir. Saya belajar dengan membaca ebook TOEFL Practice dari ETS, lalu berlatih menggunakan software bawaan dari buku tersebut. Hasilnya? Alhamdulillah skornya berada diatas batas minimum yang diminta universitas-universitas yang saya tuju.

Saya akan membahas tips untuk menghadapi TOEFL iBT mulai dari sesi reading, listening, speaking dan writing pada post selanjutnya di lain kesempatan (kalo nggak lupa ya :p).

Hari-H tes.

Pada hari tes, saya diminta untuk datang setengah jam sebelum tes dimulai. Peserta diminta untuk mengisi formulir, menunjukkan kartu identitas, lalu difoto sebelum tes dimulai. Tes berlangsung selama sekitar 3,5 jam: terdiri dari sekitar 1 jam reading, 1 jam listening, 10 menit istirahat, 20 menit speaking, dan 50 menit writing. Kita tidak perlu menggunakan seluruh waktu yang dialokasikan tersebut, tapi saya sangat menyarankan supaya kamu MENGGUNAKAN SELURUH WAKTU READING, LISTENING, dan ISTIRAHAT, sambil tetap konsentrasi dan rileks menikmati lingkungan sekitar. Do it and you can thank me later.

Hasil tes.

Setelah menjalani tes yang panjang dan melelahkan tersebut, kita dapat mengetahui hasilnya secara online di website toefl sekitar 2 minggu setelah hari tes. Sedangkan untuk report yang dikirim melalui pos, dapat memakan waktu 1-2 bulan sejak hari tes. Report TOEFL saya sendiri memakan waktu 1,5 bulan untuk sampai ke alamat rumah saya :(

Oleh karena itu saya sangat menyarankan untuk mengambil tes TOEFL sejak 2-3 bulan sebelum deadline pengumpulan aplikasi untuk menghindari keterlambatan pengiriman melalui pos.

That’s it for now, Cheers!

    • #Thoughts
    • #toefl
  • 3 months ago
  • 5
  • Comments
  • Permalink
  • Share
    Tweet

5 Notes/ Hide

  1. likeipad2 liked this
  2. whateveredex liked this
  3. extrusions20we liked this
  4. rofiqisetiawan liked this
  5. adzmangstab reblogged this from wari
  6. emylneon said: mau lanjutin dimana lagi gitu kang wariiiii?? heheheh
  7. bady reblogged this from wari
  8. wari posted this

Recent comments

Blog comments powered by Disqus
← Previous • Next →

a learner, experimenter, and part-time teacher. when i hate things, i fix them.

  • @anwari333 on Twitter
  • Facebook Profile
  • RSS
  • Random
  • Archive
  • Ask me anything
  • Mobile

Effector Theme by Carlo Franco.

Powered by Tumblr